ehem,,,ehem,,,
buat kalian para cewek-cewek pasti pernah punya temen cowok yakan ??
kita bersahabat itu adil buat semuanya, kita gak milih2 teman, but dalam islam dibolehkan gak ya ???
kali ini muncul pertanyaan seperti ini dalam my heart , ( ceilehh bahasanya mbak)
kita bisa aja bergaul, bercanda , akrab , deket bingits malah sama temen cowok kita, padahal bukan muhrim/mahram tuh!! , buat cewek kyk aku yg pake hijab , merasa masih sumpah mati aku jadi penasaran...( nyanyi dulu ya) ....boleh gk sih dalam islam , cewek sama cowok itu berteman ??
nah , kali ini aku mau ngepost buat kalian yg kepo kyk aku nih,,
bukan apa-apasih, cumankan kita itu harus tau, bagaimanapun , ia gak sih ( yg setuju angkat tangan dong, tapi jgn tinggi2 ya) hahahah garing bingits loe ta,,,,
okay ini dia,,,
Bolehkah Lelaki Dan Wanita Bersahabat
gambar hiasan
LELAKI SEBAGAI LELAKI, WANITA SEBAGAI WANITA
Kedua-dua lelaki dan wanita, hidup sebagaimana yang ditetapkan ke
atas mereka. Lelaki cenderung menjadi gagah dan kuat fisiknya,
manakala wanita cenderung menjadi lembut dan anggun . Lelaki sampai
kiamat tidak akan boleh mengandung atau melahirkan. Wanita pula
pasti akan didatangi haid dan sebagainya.
Mereka, lelaki dan wanita, hidup sebagai diri mereka. Satu sama lain
tidak boleh menukar keistimewaan diri masing-masing walaupun
kedua-duanya mau.
Islam, sebagai satu cara hidup yang paling sempurna dan sesuai untuk
semua manusia, tidak hanya berbicara perihal solat dan zakat. Bahkan
Islam juga membicarakan tentang bab mu’amalat yaitu hubungan sesama
manusia. Termasuk juga perbincangan tentang perhubungan antara lelaki
dan wanita.
Apabila lelaki dan wanita hidup sebagai diri masing-masing, maka di
sana ada etika tertentu yang perlu mereka patuhi dan ikuti jika mau
berhubung sesama mereka. Sungguh Allah itu tidak zalim dan kejam,
sehingga menyekat manusia wanita dan lelaki untuk hidup serta bergaul
sesama mereka saja,
Salah faham seperti ini, kerapkali menjadikan wanita sebagai mangsa,
sehingga pergerakan mereka terbatas dan sudut pandang mereka menjadi
sempit. Hakikatnya, mangsa yang sebenar bukanlah wanita sebaliknya Islam
itu sendiri ditohmah sebagai puncak dari masalah tersebut.
PERGAULAN DAN PERSAHABATAN
Secara dasarnya, kedua-dua lelaki dan wanita tidak dilarang untuk
memajukan diri mereka dalam apa saja aspek yang mereka geluti. Tidak
ada istilah hanya lelaki boleh maju, wanita perlu duduk di rumah. Islam
itu prinsipnya bukan menyekat, sebaliknya memberi saluran dan
alternatif.
contohnya kehidupan di kampus atau disekolah, kerja di
pejabat maupun turun memberi sumbangan pada masyarakat. Manusia yang
bertemu ini, bukan hanya sesama mereka saja, sebaliknya lelaki pasti akan
bertemu wanita, dan wanita pula akan bertemu lelaki.
Islam tidak menghalang perkara tersebut.
Tidak haram lelaki bertemu wanita dalam satu-satu lapangan kerja,
begitu juga wanita tidak haram bertemu lelaki. Mereka boleh berhubungan,
bergaul dan bekerja bersama-sama.
Cuma, Islam menyalurkan manusia dengan etika yang betul. Etika inilah
yang akan menjadikan pergaulan serta perhubungan tadi selamat, bukan
hanya di dunia bahkan hingga ke akhirat. Antara etika yang Islam
tetapkan adalah
menjaga pandangan.
Apa yang penting, tersirat satu hikmah besar di sebalik arahan Allah
supaya lelaki jangan memandang wanita dan wanita jangan memandang lelaki.
( jadi kalo jalan, pandang bawah aja ya kita ???)
Bukan.
Menundukkan pandangan maksudnya jangan pandang tanpa ada keperluan
untuk pandang. Jangan pandang dengan nafsu. Jangan pandang dengan
keinginan tertentu. Jangan pandang tempat-tempat tertentu.
Jangan dan jangan ini, untuk kebaikan manusia sendiri. Apabila suka
pandang- memandang, dari mata jatuhlah ke hati. Salah. Dari mata jatuhlah ke NAFSU.
Timbullah keinginan-keinginan tertentu. Akhirnya bila bertemu jalan
buntu, zinalah menjadi jalan keluar paling mudah.
Itu baru satu etika.
Banyak lagi etika lain yang Islam wajibkan untuk patuh dalam pergaulan lelaki dan wanita.
Antara lain :
1. Jangan berdua-duaan
2. Jangan letakkan diri dalam keadaan yang mengundang fitnah
3. Jangan bertepuk tampar, bersentuh-sentuhan, berpegangan tangan
4. Jangan bermain soal hati
5. Jangan bergaul dengan lawan jenis, seperti bergaul sesama jenis
6. Jangan terlalu rapat sehingga semua benda boleh ‘open’
7. Jangan berkerjasama dalam perkara maksiat
8. Dan banyak lagi ‘jangan’ yang lain.
JADI, BOLEHKAH BERSAHABAT LELAKI DAN WANITA?
Sebelum dijawab, antara istilah ‘sahabat’
dan ‘kawan’ ada pengertian umum.
Kawan atau rekan atau kenalan,
sifatnya tidak terlalu rapat.
Tapi istilah ‘sahabat’ menampakkan
keakraban dan mungkin juga kemesraan.
Tak mengapa, itu isu istilah. Kita tidak mau berbicara tentang
istilah, tetapi mau memfokuskan kepada apa yang diistilahkan. Kaedah
Fiqih menyebutkan :
” Hukum dikira kepada apa yang dinamakan, bukannya pada nama “. Maknanya, kalau arak ditukar nama menjadi soya sekalipun, hukumnya tetap haram.
Begitu juga bab bersahabat atau berkawan dengan berlainan jenis.
Mudahnya, mari kita sama-sama fahami prinsip asas yang digariskan Islam :
1. Lelaki dan wanita berbeda terciptanya. Bersentuh tangan atau duduk
dekat-dekat sesama jenis, tidak sama dengan bersentuh tangan atau
duduk rapat-rapat dengan berbeda jenis. Oleh itu,
Islam mengharamkan sentuh menyentuh,
pegang memegang, tepuk menepuk, dakap mendakap dan yang sewaktu
dengannya oleh manusia yang berbeda jenis – kecuali setelah menikah.
2. Bersahabat harus ada tujuannya. Dan tujuan yang dibenarkan dalam Islam adalah tujuan yang membawa kepada
Al-Birr (kebaikan) dan
At-Taqwa (ketaqwaan). Sebagaimana Firman Allah ta’ala dalam Surah Al-Maaidah :
” dan hendaklah kamu sekalian
bertolong-tolong dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan , dan janganlah
kamu sekalian bertolog-tolong dalam perkara maksiat dan permusuhan “
Jadi, kalau bersahabat atas dasar taqwa dan kebaikan, caranya juga
mestilah ada ciri-ciri orang bertaqwa dan orang yang membawa kebaikan.
Orang bertaqwa tidak akan sembrono saja bergaul dengan bukan
mahramnya. Dia pasti akan memelihara adab dan perilakunya. Begitu juga,
tujuan yang sama-sama diusahakan juga tentulah yang menuju kepada Allah,
seumpama dalam satu kelompok keagamaan.
3. Batasan sesama bukan mahram. Atas nama apa sekalipun, jika
hakikatnya mereka bukan mahram, maka hukumnya tetap haram jika batasan
pergaulan dilanggar. maksudnya, walaupun kita adalah sahabat / rekan berbeda jenis, tidak berarti mereka boleh sampai ke tahap saudara
kandung kita. Prinsipnya tetap sama. Justru, selagi batas perhubungan
sesama bukan mahram tidak dilanggar, maka persahabatan itu tidak salah.
ATAS NAMA KAWAN / SAHABAT?
Mereka keluar berdua, makan-makan dan duduk di atas bukit. Ambil angin
katanya. Bila ditanya, mereka jawab : ” kami hanya kawan biasa.
Kebetulan dia ada masalah, mau cari tempat curhat, jadi saya luangkan waktu. Lagipun, kami masing-masing udah ada yang punya jugak,,, “.
Ber
couple itu menjadi haram bukan kerana namanya
couple
atau semata kerana isu ‘aku cinta kau, kau cinta aku’. Couple menjadi
haram guys, kerana wujudnya gejala berdua-duaan, berbicara dari hati ke
hati tanpa ada batasan dan sebagainya. Jadi, jika terjadi hal seperti itu, tak mau tau itu ‘kawan’ atau, ‘sahabat’ ataupun ‘couple’ ,
hukumnya tetap adalah haram. Ia termasuk dalam kategori khalwat dan
mukaddimah zina.
BAGAIMANA YANG BOLEH?
Coba lihat di mana kita berada.
Kalau dalam situasi kita di sekolah, kita tentu punya teman satu sekolah atau sekelas. Mungkin terlibat dalam program, kerja sama dan
sebagainya. Maka kita boleh saja menganggap ‘muslimin itu sahabat saya’
atau ‘muslimat itu kawan saya’. Bahkan ia berpahala jika
disandarkan kepada firman Allah : Sesungguhnya setiap mukmin itu
bersaudara.
Tetapi, menganggap mereka sebagai sahabat atau kawan, tidak
berarti kita boleh ‘masuk’ ke dalam kehidupan mereka seperti kita masuk
ke dalam kehidupan sesama kita. Maka, undang-undang pergaulan sangatlah
perlu untuk dijaga.
Kalau dalam contoh bekerja pula. Katakan kita sebagai wanita, dan
ketua kita adalah lelaki. Masing-masing boleh menganggap sesama sendiri
sebagai sahabat. Tetapi jika berhubung, perbincangan hanyalah tentang
hal-hal kerja saja. Selagi mana topiknya tidak tersasar, ia tidak
menjadikan kita salah. Kita akan menjadi salah, apabila topik
sedikit demi sedikit beralih dari hal kerja kepada hal pribadi, dari
satu jam kepada berjam-jam, dari duduk jadi bergayut dan sebagainya.
Justru, yang boleh tetap boleh, selagi mana tidak diresapi unsur-unsur yang menjadikannya sebagai tidak boleh.
KESIMPULAN
guys, aku dapat menarik kesimpulan, bahwa lelaki atau perempuan itu tidak dilarang dalam islam untuk bersahabat, tapi kita harus menjaga perilaku, tatapan mata kita, cara bicara kita, harus semua itu dijaga, dan kita gak boleh memperlaukan kawan cowok kita sama kyk kwan cewek kita...
tak ada saahnya kita berteman dengan lawan jenis , tapi kalo kita udah ngelanggar semua yang ditentukan oleh allah, maka persahabatan kita itu jadinya haram.... naudzubillahhiminzhaliq
jadi, kita berteman yg sewajarnya saja ya guys....
jgn seperti udah kyk sahabat cewek kita aja, curhat, peluklah, peganganlah, sama kawan cowok kita,, walaupun kita nganggap dia sahabat. tapi guys, dimata allah itu semua haram, dan berlakulah dosa untuk itu...
semoga kita dijauhkan dari hal yang dilarang oleh allah. SWT. aminnn
okey dokkey itu dia, semoga bermanfaat untuk kita semua
wassalam
D.R